Ibu, Teh, dan Semut

Udara pagi nan sejuk ditambah pemandangan awan yang begitu menggoda membuatku menghela napas panjang sembari melangitkan rasa syukur masih diberikan waktu untuk menjalani hari ini, "Alhamdulillah". Seperti biasanya, setiap pagi aku menjalani beberapa rutinitas, membuat rencana hari ini harus mengerjakan apa, lalu mengeksekusinya. Ya cara ini sebenarnya sangat kaku, setiap jam aku menyetting alarm, aku beberapa kali melanggarnya. Jam 6 pagi seharusnya aku sudah membaca buku, namun hari ini aku lebih suka menghabiskan beberapa menit untuk melihat ke langit dan memperhatikan lingkungan sekitar, menyaksikan suara ayam berkokok, kucing mengeong, burung berkicau, dan tumbuhan nampak sedang berjoget-joget karna sepoyan angin.
Sumber foto: Unsplash.com

"La, turun, sarapan," panggil Ibuku sangat nyaring. 
"Iya bu," sahutku.

Sarapan kali ini diisi oleh teh manis hangat dan roket (?). Istilah roket erat dengan wahana luar angkasa. Akan tetapi, roket versi daerahku adalah makanan berisi kentang, wortel, telur, dan ayam, versi Indonesia bernama risol.  Nama-nama maknanan versi daerahku memang sedikit unik, contohnya lagi kapal selam. Kapal selam yang dimaksud bukanlah sebuah transportasi, tetapi makanan pempek yang terbuat dari ikan. Begitulah orang palembang, makanannya buat greget hehe.

Sembari menikmati sarapan, Ibu menceritakan tentang seekor semut bahwa semut sangat gigih dalam mencari makan. Semisalnya ada kue. Kita letakkan di meja dan ada segerombolan semut, lalu untuk mengatasinya, kita bisa menggunakan kapur ajaib agar semut tidak mendekat. Namun apakah semut akan menyerah dengan cepat?. Jawabannya tidak, si semut akan berusaha menerobos garis putih-putih kapur ajaib. Seketika aku teringat dengan sebuah buku berjudul "Semut Ibrahim". Si semut berusaha mengambil air dengan kapasitasnya untuk menolong Nabi Ibrahim dari kobaran api, lalu si Elang mendatanginya dan menertawakannya, "Haha, mana mungkin kau bisa membantu jika air yang kau bawa ini sangat sedikit". Si semut dengan tenang menjawab, "Aku tahu air yang ku bawa ini sangat sedikit, namun aku akan selalu berusaha untuk menolong". 

Aku semakin penasaran, apa pesan yang hendak disampaikan Ibu melalui ceritanya. 
"Terus apa hubungannya bu?." tanyaku.
Ibu langsung mengungkapkan isi dari ceritnya, "Coba pikirkan bahwa ada banyak manusia yang menyerah dengan hidup ini, contohnya memilih tidak melakukan apa pun padahal otak manusia itu lebih besar dari semut". Intinya, Ibu menginginkanku untuk terus bergerak, mengusahakan membuka setiap pintu hidup ini. Aku hanya mengangguk dan membenarkan perkataan Ibu.

Posting Komentar

10 Komentar

  1. Uong Plembang emang mantap. Roket dan kapal selam be dimakan. Pakam nian emang wkwwkok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karna makanannyo pakam-pakam, wong Palembang terkenal dengan hebatnyo wkw

      Hapus
  2. Terus berusaha, tanpa menyerah, layaknya semut yang tak menyerah mengusahakan sesuatu. Ibarat kata yai najib, "Alon-alon asak selagon" #ehh

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Makasih sensei, masih perlu belajar lagi...

      Hapus
  4. Balasan
    1. uwww seperti tagline nadwah dum, ngena bermakna. Aamiin...

      Hapus
  5. Masyallah terus kan mbak, semangat berkarya

    BalasHapus
  6. Lebih aware dengan lingkungan sekitar, mengembalikan esensi bahwa manusia bisa disadarkan bahkan melalui binatang kecil yang sering disepelekan.

    BalasHapus