Kenangan itu sama seperti hujan. Ketika Ia datang kita tak bisa menghentikannya.
Novel Hujan
Novel hujan karya Tere Liye ini berkisah tentang teknologi, keluarga, romance dan pertemanan. Dua tokoh utama dalam novel ini adalah Lail dan Esok. Kedua tokoh dipertemukan pada peristiwa yang mengejutkan, bencana alam.
Sumber foto: pintabuku |
Cuplikan Kisah Lail
Lail, anak berusia tiga belas tahun saat ditinggalkan oleh keluarganya. Pagi itu, Lail baru akan masuk sekolah pertamanya. Ibunya akan mengantarkanya menggunakan kereta bawah tanah. Tiba-tiba letusan gunung datang, semuanya berubah. Lail sempat terpisah dengan ibunya, namun sempat bersatu kembali. Kemudian, saat mencari jalan keluar dari bawah tanah, ia benar-benar terpisah selamanya dengan ibunya karna ibunya tertimbun runtuhan bebatuan anak tangga yang merupakan jalan keluar satu-satunya. Bukan hanya ibunya, hujan benar-benar membasahi pipinya saat ia menerima kabar negara tempat ayahnya bekerja, tidak ada satupun yang selamat. Lail menjadi sebatang kara, tak ada anggota keluarga yang bisa ia temui lagi...
Cuplikan Kisah Esok
Esok, anak berusia tua 2 tahun dari Lail. Ia kehilangan empat orang kakaknya saat gunung mengamuk. Berbeda dengan Lail, esok masih ada anggota keluarga yang bisa ditemuinya yaitu Ibunya, meskipun dalam kondisi kaki ibunya diamputasi. Esok merupakan pemuda yang pintar dan juga menjadi orang spesial bagi Lail.
Saat peristiwa gunung meletus, Esok dan Lail berada di kereta bawah tanah. Singkat cerita, hanya mereka berdua yang bisa selamat dari kedalaman 40 meter dari permukaan. Lail sebenarnya bisa saja tidak selamat jika Esok tidak segera menarik tas ranselnya ke permukaan.
Mereka berdua menjalani hidup bersamaan ditenda pengungsian, berpisah saat Esok diangkat menjadi anak Walikota dan Lail tinggal di panti asuhan. Lambat laun, Lail mulai menyadari perasaannya terhadap Esok bukan hanya sebatas adik kakak, Ia menaruh rasa spesial pada Esok. Untuk menjalani rasa kerinduannya, ia menyibukkan diri dengan beraktivitas bersama Maryam, teman satu kamar Lail.
Seperti biasanya, Tere menyelipkan pelajaran berharga. Kali ini ia mengingatkan untuk saling membantu, melalui kalimat Maryam saat mendaftar Organisasi Relawan "... Bosan tidak melakukan apa pun, sementara orang lain membantu banyak. Kami bosan menjadi remaja biasa-biasa saja. Kami tidak genius, tidak bisa membuat mesin roket, atau memiliki bakat hebat, tapi kami ingin membantu.."
Ending cerita?
Lail dulu sangat menyukai hujan selama ia mengenal Esok, namun sekarang ia ingin menghapus kenangan tentang hujan. Eits jangan kira ini sad ending, nikmati saja dulu membacanya dengan secangkir coklat hangat.
Note:
Bukunya bisa dibaca melalui aplikasi Ipusnas, gratis hehe.
20 Komentar
One of my favourite book, sih. Sudah menamatkan sekitar 3-4 kali haha.
BalasHapusTere Liye sudah tidak usah diragukan kali kalau nulis fantasi dan romance begini. Detail dan sangat punya alur yang sangat. Logikanya juga dapet sih. Cerita Lail dan Esok bagus banget. Ga tau kenapa aku selalu merasa menjadi Lail wkwk
Keren la pokoknya buku ini. Sayang banget kalau ga dibaca :v
weh 3-4 kali baca salut🤤
HapusTere bisa saja menyelipkan bekas yang buat greget disetiap bukunya, termasuk buku ini kisah heroik Lail dan Maryam
Keren banget reviewnya, bikin pengen baca bagi yang belum baca dan pengin baca lagi walaupun sudah.
BalasHapusJadi keinget slaah satu bagiannya kalau ndk salah ada dimana lail dan esok diam-diam janjian terus keliling pake sepeda😢
Lail dan Esok jalan jalannya selalu menggunakan sepeda meskipun kota tempat tinggal mereka itu sudah modern wkwk
HapusTere Liye emang penulis berbakat..
BalasHapussemoga lambat laun para remahan rengginang bisa seperti Tere wkek
HapusTere liye tu jeme lahat
BalasHapusJadi pengen baca.. thanks mbak.. blm pernah baca fulk novel bang Tere sih. Tp denger2, novelnya bagus, meski judulnya kaya baperan tp isinya ternyata penuh makna banget
BalasHapusRata rata novelnya ada sisi romance semua tapi sisi kebucinan itu tertutupi karna serat makna tadi:"
HapusKarya tere liye selalu keren ya. Nggak tahu kapan, moga-moga aja bisa baca. Udah lama juga enggak baca buku😁
BalasHapusSi buku menanti untuk dibaca, kuy dibaca via offline atau online😅
HapusBagus novelnya. Momen yang masih kakak ingat itu, saat Lail berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan masyarakat yang di hilir sungai. It was epic :v
BalasHapusYap itu sisi heroiknya kak, banjir banjir langsung ditrabas
HapusBaru baca novel ini, bulan kemarin. Keren banget. Banyak sekali semacam quotes yang saya temuin di dalamnya. Salah satunya adalah "Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa".
BalasHapusAku juga suka quotes itu, sedikit banyaknya menjadi salah satu cara melupakan banyak hal yang kurang penting🤤
HapusSalah satu novel karya Bang Darwis yang akan saya baca dalam waktu dekat. Thanks reviewnya. 👍 #dwiki
BalasHapusKata orang, persentase hujan itu....99% kenangan + 1% air wkwkk
BalasHapusHujan versi Lail banget itu
Hapusaku gapernah menamatkan novel manapun. cuma bbrapa serial kumpulan cerita Sherlock yg abis aku baca. dn bbrp buku non fiksi.
BalasHapusAku g bisa byangin gimna perubahan gaya nulis ku, stelah baca novel2 tere liye.
wkwkwk nanti tulisannya sedikit emmm
Hapus